Peta Masalah KIA di Indonesia
- What is Problem in Indonesia -

v Masalah Kesehatan Ibu dan Anak

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. AKI di Indonesia menurun secara perlahan dari 450 (1986) menjadi 390 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995 (SKRT,1995). Sementara pada tahun 2000 ditargetkan menjadi 225/100.000 kelahiran hidup.

Permasalahan kematian ibu tersebut merupakan masalah kompleks yang diwarnai oleh derajat kesehatan termasuk status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan. Kejadian kematian ibu juga berkaitan erat dengan masalah sosial budaya, ekonomi, tradisi, kepercayaan masyarakat, keadaan geografis serta tingkat pendidikan masyarakat.

Permasalahan kesehatan ibu tersebut merupakan refleksi dari masalah yang berkaitan dengan kesehatan bayi baru lahir.

Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia walaupun telah menurun secara drastis dari 145 (tahun 1967) menjadi 52 per 1000 kelahiran hidup dalam 3 dekade terakhir (SKRT, 1997) namun angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya yaitu sekitar 1,2-13 kali lipat.

Sekitar 40% kematian bayi tersebut terjadi pada bulan pertama kehidupannya. Penyebab kematian pada masa perinatal/neonatal pada umumnya berkaitan dengan kesehatan ibu selama hamil, kesehatan janin selama didalam kandungan, dan proses pertolongan persalinan yang diterima ibu/bayi.

Untuk mempercepat penurunan AKB dan AKI, beberapa langkah inovatif telah dikembangkan dan diterapkan selama 6-7 tahun terakhir, seperti menempatkan bidan-bidan di 54.120 desa yang mencakup 82% dari jumlah desa di Indonesia, penerapan esensi dan pemahaman perawatan kehamilan, gerakan nasional menyusui melalui kampanye rumah sakit ramah bayi yang kemudian diikuti oleh gerakan nasional safe motherhood melalui kampanye sayang ibu, dan proyek manajemen terpadu balita sakit (MTBS). Langkah-langkah tersebut diterapkan di seluruh tingkatan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia terutama difokuskan pada aspek penawaran.

Strategi untuk menurunkan AKB dan balita antara lain adalah :
- Memberdayakan keluarga dengan meningkatkan pengetahuan dan kemandirian dalam mengenali dan memecahkan masalah kesehatan yang ada.
- Memberdayakan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan dan kemandirian dalam mengenali serta mengorganisir upaya pemecahan maslah kesehatan masyarakat
- Memberdayakan tenaga kesehatan dalam aspek pengetahuan dan ketrampilan baik teknis medis maupun manajerial.
- Memperkuat peran dan fungsi Puskesmas serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
- Memperkuat sistem rujukan dengan meningkatkan peran dan fungsi rumah sakit Kab./Kota.


v Pemecahan Masalah

Sehubungan dengan strategi dalam percepatan penurunan AKI dan AKB maka telah dilakukan berbagai upaya untuk menangani masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia salah satunya dengan menerapkan program buku KIA. Adapun tujuan penggunaan buku KIA adalah meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu dan menyediakan kualitas pelayanan KIA yang lebih baik untuk setiap ibu hamil dan anaknya. Dengan menggunakan buku KIA juga akan menciptakan komunikasi dua arah yang baik antara petugas kesehatan, kader dengan keluarga. Komunikasi yang baik akan secara signifikan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kemampuan yang berhubungan dengan peningkatan status KIA dalam keluargadan masyarakat sebagai satu kesatuan. Pada saat yang sama, petugas kesehatan dan kader akan berusaha menyediakan kualitas pelayanan penyembuhan dan pencegahan secara lebih baik dan membimbing ibu secara tepat. Melalui buku KIA, ibu dan keluarga akan mendapatkan masukan secara aktual mengenai kesehatan diri dan anaknya, perkembangan dan status gizinya.

Sejak tahun 1993, Departemen Kesehatan RI dan Kantor Wilayah departemen Kesehatan Propinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) melakukan uji coba penggunaan buku KIA di satu kotamadya terpilih di Jawa Tengah. Hasil uji coba tersebut memperlihatkan hasil yang menggembirakan yang ditandai dengan meningkatnya pengetahuan ibu mengenai KIA serta meningkatnya cakupan pelayanan KIA di daerah proyek. Tahun 1997, buku KIA mulai dikembangkan ke propinsi lainnya yaitu Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Pada saat ini sebanyak 137 kabupaten yang ada di 17 propinsi mulai menerapkan penggunaan buku KIA dengan memanfaatkan sumber dana baik dari APBN/APBD, JICA, maupun sumber lainnya seperti ADB, World Bank, UNICEF, AusAID, dan berbagai organisasi profesi/LSM seperti IBI, PCI, ADRA, World Vision, dan sebagainya.




トップ アイコン
トップ


オフィス街(紫)